KETIKA KRISIS LINGKUNGAN MENJADI PERTARUNGAN KEKUASAAN GLOBAL
Dulu kita mengira krisis lingkungan hanyalah soal tumpukan sampah, asap pabrik, atau berapa banyak pohon yang kita tanam. Hari ini, logika itu runtuh. Krisis lingkungan telah berubah menjadi medan perang baru. Bukan perang dengan senjata, tapi perang kekuasaan global. Inilah yang disebut sebagai Geopolitik Hijau.
Dulu kita mengira krisis lingkungan hanyalah soal tumpukan sampah, asap pabrik, atau berapa banyak pohon yang kita tanam. Hari ini, logika itu runtuh.
Krisis lingkungan telah berubah menjadi medan perang baru. Bukan perang dengan senjata, tapi perang kekuasaan global. Inilah yang disebut sebagai Geopolitik Hijau.
Lihat faktanya. Isu lingkungan tidak lagi netral. Ia menjadi alat tawar, alat tekan, bahkan alat penjajahan gaya baru.
Pertama, lingkungan dijadikan senjata ekonomi. Negara-negara Barat dengan lantang bicara emisi karbon, lalu membuat aturan pajak karbon. Hasilnya? Produk sawit, nikel, dan batubara Indonesia sulit masuk ke Eropa atas nama "tidak ramah lingkungan". Padahal di balik narasi hijau itu, ada kepentingan untuk melindungi industri mereka dan menguasai rantai pasok energi baru. Kita disuruh menjaga hutan, tapi mereka tetap menikmati hasil industri dari sumber daya kita.
Kedua, lingkungan adalah soal keamanan nasional. Apa yang terjadi jika sumber air menyusut, sawah gagal panen karena cuaca ekstrem, dan puluhan ribu orang harus pindah karena tenggelamnya pesisir? Itulah bom waktu yang bernama krisis pangan dan migrasi iklim. Negara yang gagal mengelola ini akan runtuh dari dalam. Negara yang menguasai teknologi pangan dan energi terbarukan akan menjadi penguasa baru.
Ketiga, yang menguasai teknologi hijau, dialah penguasanya. Perang dunia selanjutnya bukan lagi perebutan sumur minyak, tapi perebutan lithium, nikel, dan teknologi baterai. Siapa yang menguasai baterai, dia menguasai mobil listrik dunia. Siapa yang menguasai panel surya, dia menguasai listrik masa depan. Indonesia ada di tengah pusaran ini, karena kita punya semua bahannya.
Maka sangat naif jika gerakan mahasiswa, khususnya HMI, masih memandang isu lingkungan hanya sebagai kegiatan bersih-bersih pantai atau bagi-bibit.
Krisis lingkungan adalah pertarungan ideologi dan kepemimpinan. Kita butuh arsitektur kepemimpinan global yang tidak sekadar ikut arus "hijau" yang didesain Barat, tapi yang berani menawarkan Keadilan Iklim. Jangan sampai transisi hijau hanya mengganti tuan. Dulu kita dijajah karena rempah dan minyak, jangan sampai besok kita dijajah lagi atas nama baterai dan karbon.